Renungan Tentang Keragaman Bagian 2

Memaknai Langkah

“Anak-anak beragama nonmayoritas yang tidak diberi kegiatan keagamaan mungkin senang-senang saja karena tidak harus belajar, tapi nyatanya mereka sebetulnya justru dipisah-pisahkan. Dari situ bisa dikupas lagi, misalnya apakah memisahkan anak-anak ke dalam kelas-kelas agama itu bisa disebut kegiatan keragaman, atau malah keseragaman?

Karena kalau anak non-muslim ditaruh di perpustakaan, sementara yang muslim tadarusan, itu kegiatan apa namanya? Apa betul itu kegiatan keragaman?,” papar Henny. “Lama-kelamaan, tanpa disadari, sekolah negeri kita yang seharusnya bertanggung jawab sebagai penyemai keragaman, justru menjurus menjadi sekolah agama, dan ini tampaknya dibiarkan oleh Kemendikbud,” sesal Henny. “Tadi kita dengar dari para guru, waktu setengah jam sebelum masuk kelas dipakai untuk tadarusan.

Itu (kegiatannya) sudah pisah, kan? Waktu upacara, doanya dalam bahasa Arab dan Indonesia, nah sudah pisah lagi kan? Hari Jumat disuruh pakai jilbab, ada juga yang diwajibkan pakai setiap hari, berarti pisah lagi kan? Gurunya, berseragam jilbab (yang perempuan), ini pisah juga, kan? Bukannya itu tidak baik.

Tapi, benarkah pemahaman keragaman bisa dicapai dari pemisahan-pemisahan seperti itu? Masalahnya adalah bagaima kita memberikan kesempatan bagi semua pemangku kepentingan di sekolah untuk memaknai langkah mereka. Jadi, kalaupun ada guru memakai jilbab, itu karena pilihannya sendiri dengan makna yang disadari penuh, dengan apa yang diinginkannya, sehingga ia bisa bertanggung jawab terhadap keputusannya.”

Pembiaran Berbahaya

Henny menegaskan, Kemendikbud seharusnya melihat segala sesuatu dengan realistis. “Lihatlah, bahwa mengarahkan anak-anak untuk mendapat pelajaran agama lebih banyak, agar mereka lebih sering melantunkan kata ‘Tuhan’ sebetulnya tidak akan ada artinya dibandingkan dengan memberikan kesempatankesempatan kepada mereka untuk bekerja sama, memperbaiki lingkungan, mempunyai peran untuk perbaikan itu, juga melihat persoalan dari berbagai perbedaaan yang ada kesamaannya.

Kita lihat sendiri contohnya, orang-orang yang selalu membawa nama agama, atau menyebut kebesaran Tuhannya juga melakukan kekerasan-kekerasan.” Sekarang kita bicara pemisahan dalam baju seragam. “Sejak kapan penting bagi sebuah sekolah (negeri) untuk menaruh identitas agama ke dalam baju? Sejak kapan itu diperlukan dan mengapa itu diperlukan? Pertanyaan kritis lainnya adalah dalam dunia pendidikan seberapa jauh peraturan itu mengajarkan pada anak kita akan keterbukaan yang dibutuhkan untuk bekerja sama nanti di masa depan?” kembali Henny mempertanyakan.

Berikan anak pelatihan untuk masuk universitas sejak dini melalui lembaga pelatihan tes masuk universitas luar negeri terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *