Rekomendasi Smartphone yang Cocok untuk Main Game PPSSPP

Rekomendasi Smartphone yang Cocok untuk Main Game PPSSPP

Kabar paling mengejutkan pada tengah minggu, April ini adalah ketika ASUS merilis smartphone seri Zenfone tiga varian sekaligus dengan harga yang amat memukau. Dimulai dengan Zenfone 4 seharga Rp 1.099.000,-, seterusnya berbeda Rp 1 juta untuk Zenfone 5, dan selisih Rp 2 juta buat Zenfone 5. Sejak dulu produsen Taiwan ini sudah dikenal sebagai pabrikan smartphone highend. Beda dengan Lenovo atau Acer yang debut Android-nya melalui produk mid end. ASUS menggebrak, tingkat keseriusan ditunjukkan. “Pengalaman kami sudah 10 tahun di industri smartphone,” kata Jerry Shen, CEO ASUS yang bersua SINYAL pada 15 April lalu.

Maka Zenfone adalah produk berkelas premium, karena dibangun oleh material prima. Kata Jerry, di bursa ponsel dunia, hukum yang berlaku selalu saja ibarat pepatah, “ada barang, ada uang”, produk papan atas haruslah dibanderol mahal pula. Sebut saja iPhone 5S yang debutnya saja sudah membikin kita terbelalak. Hingga menimbulkan stigma, “produk Apple, apalagi iPhone memang tidak akan pernah terjangkau”. Bahkan versi iPhone 5C yang diharapkan banyak konsumen di level harga kisaran Rp 5-7 jutaan, faktanya tak tembus angka tersebut. Walaupun materialnya down spec, toh Apple tak sedikit pun bijak memasang angka “terjangkau”, minimal untuk kelas warga Apple Fans Boy. Tak heran kalau memicu protes yang tidak bergayung sambut oleh Apple. Tim Cook cuek, walaupun harus mengurangi produksi lantaran permintaan kurang sesuai harapan. Biar biaya bisa ditekan.

Ongkos Produksi

Pertanyaannya kemudian, berani amat ASUS memasang harga menggiurkan itu? Apalagi Jerry Sheng menyebut nama iPhone dan Samsung (tentu merujuk pada iPhone 5S dan Galaxy) sebagai produk premium dengan harga premium pula, sebagai benchmark. Mari kita lihat biaya produksi per unit iPhone 5S atau biasa disebut Bill of Material (BoM). Jika ditambahkan biaya pembuatan (manufacturing), produk Apple tergress ini yang 16 GB sebesar 198,7 dolar (sekitar Rp 2,27 juta). Ongkos terbesar yang harus dikeluarkan adalah untuk membayar teknologi layar retina iPhone yang besarnya mencapai 41 dolar (sekitar Rp 470 ribu). Ongkos termahal kedua adalah chipset wireless radio yang mencapai 32 dolar (sekitar Rp 365 ribu). Biaya lain-lainnya yang meliputi 12 item itu seragam untuk versi 32 GB dan 64 GB, kecuali tentu saja memori flash yang tidak menggunakan hukum keliptan seperti halnya besarnya memori yang ditawarkan. Untuk iPhone 5S 16 GB seharga 9,4 dolar (sekitar Rp 107 ribu), 32 GB seharga 18,8 dolar (sekitar Rp 215 ribu), dan 64 GB sebesar 29 dolar (sekitar Rp 331 ribu). Sementara biaya pembuatan per unit tak beda, setiap unit iPhone 5S dikenai biaya oleh Foxconn sebesar 8 dolar (Rp 91 ribuan). Dengan harga total Rp 2,27 juta, Apple menjual seharga (harga resmi) setelah dikurs, Rp 7,4 juta. Hingga iPhone 5S 64 GB resmi dari Apple senilai Rp 9,7 juta.

Dengan begitu margin sesungguhnya bisa senilai Rp 5,1 jutaan hingga Rp 7 jutaan. Maka, secara matematis untungnya mencapai 2,5 – 3 kali lipat atau 300 persen. Tapi jangan keburu teriak dulu, sebab ada faktor lain yang juga harus dibayarkan oleh Apple. Umpamanya software, biaya promosi dan marketing, dan komponen lain. Besarnya sih relatif. Namun, Apple “hanya” ingin mengutip margin 69 – 74 persen dari setiap prosuk iPhone 5S. Bagaimana dengan kompetitor Apple, Samsung? Mari kita lihat besarnya biaya produksi Samsung Galaxy S4. Produk yang selisih harganya dengan iPhone 5S sekitar Rp 2-3 jutaan ini (harga Samsung Galaxy S4 Rp 6,5 jutaan), total biaya material plus pembuatan sebesar 244 dolar (sekitar Rp 2,8 juta) alias berbanding terbalik dengan harga jual alias jauh lebih mahal. Jumlah item Samsung Galaxy S4 juga lebih sedikit, yaitu 11 item saja. Biaya terbesar yang dikeluarkan Samsung untuk seri ini adalah material layar. Jenis Super AMOLED yang sudah ditempeli Gorilla Glass terbaru (versi 3) bikinan Corning sebesar 75 dolar (sekitar Rp 857 ribu). Disusul dengan memori 16 GB seharga 28 dolar ( sekitar Rp 320 ribu). Selisih biaya produksi dengan harga Galaxy S4 sebesar Rp 3,7 jutaan, jika menggunakan harga yang telah mengalami penurunan sekarang ini.

Mungkinkah Harga Lebih Murah?

Nah, dengan ilustrasi di atas rasanya menekan harga sampai maksimal Rp 1 juta tampaknya seperti kemustahilan. Namun, apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh manufaktur Tiongkok? Xiaomi seri Hongmi yang dirilis Juli tahun silam sesungguhnya bisa memangkas Bill of Material. Smartphone dengan layar ukuran 4,7 inci (sudah dilengkapi Corning Gorilla Glass v2) , kamera 8 MP, chipset Mediatek MT6589T di pasar Amerika dijual seharga 130 dolar (sekitar Rp 1,49 jutaan). Chipset MTK sendiri memang terbilang lebih murah ketimbang prosesor lain, yaitu bisa mencapai 20 persen lebih murah. Berapa biaya yang dikeluarkan oleh Xiaomi untuk prouksi per unit seri ini? Hanya 85 dolar (sekitar Rp 971 ribu).

Maka margin yang hendak diperoleh Xiaomi hanya di kisaran Rp 500 ribuan per unitnya. Brand Xiaomi juga harus dicatat agak berbeda dengan produk made in Tiongkok kebanyakan. Selain mengusung teknologi yang lebih baik, semua proses produksi juga dikerjakan sendiri. Keuntungan cara seperti ini adalah pengaturan biaya produksi maupun manufaktur (kecuali melibatkan perusahaan supplier besar) dapat diatur, bahkan mungkin ditekan. ASUS terlahir sebagai manufaktur. Itulah bedanya dengan Apple. Seperti juga Xiaomi yang namanya kian diperhitungkan, Asus memiliki infrastruktur yang memadai. Tidak heran jika sebelumnya telah menelurkan produk mobile walaupun harga yang ditawarkan belum bisa dikatakan bersaing. Namun, seperti kata Jerry, produk harus bisa terjangkau dan produk itu berwajah premium.

Belum ada data yang dikeluarkan mencermati biaya produksi Zenfone. Namun, tampaknya ia mengikuti pola seperti yang dilakukan oleh Xiaomi. Walaupun bedanya, ASUS memakai chipset buatan Intel, tapi pasti tidak lebih mahal ketimbang Samsung yang harus menguras kocek 30 dolar (sekitar Rp 342 ribu) untuk menebus Exynos 5 Octa yang notabene bikinan Samsung sendiri. Katakan Intel menawarkan harga sekitar 17-19 dolar seperti yang dipakai Nokia Lumia 900 atau iPhone 5S dengan chipset non-Intel, mustinya sih masih masuk hitungan ongkos kurang dari 100 dolar. Skenario lain yang masuk akal, adalah Zenfone 4 dibuat sebagai kail dengan pertimbangan yang penting tidak rugi dan dibuat dengan stok terbatas untuk kemudian konsumen berharap pada seri Zenfone 5 atau 6. Yang, kedua seri terakhir ini paling tidak bisa mensubsidi “adik”-nya itu. Poinnya adalah, sekarang sudah berlaku stigma “ponsel bintang lima, harga kaki lima”. Dan, itu justru dimulai oleh ASUS yang produknya tak kalah bagus, bahkan berani menantang Nokia, Samsung, juga iPhone

Sumber : Teknorus.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *