Kumpulan Puisi Guru Terbaik yang Menyentuh Hati [TERBARU]

Di bawah ini merupakan contoh puisi guru terbaik:

**Puisi Guru 4 Bait**

Guruku hari ini tersenyum manis

Tapi aku hanya bisa membalasnya dengan senyum meringis

Bagaimana tidak tugas yang ia berikan membuatku ingin menangis

Hingga membuat mamaku bertanya di malam yang sedang gerimis

“Mengapa tugasmu tak habis-habis”

Sebab Dari pagi hingga malam aku kerjakan tak kutemu jalan keluarnya

Soalnya terus berputar di tempat yang sama hingga bikin pusing kepala

Ingin aku sobek-sobek buku tugas warna biru muda itu dan membuangnya

Tapi bagaimana nasib nilaiku nantinya

Dan aku terus mengerjakannya hingga malam tiba

Ingin sekali rasanya aku segera terlelap dan tertidur saja

Tapi bayang-bayang engkau tak pernah absen di kepala

Mulutku waktu itu ingin marah-marah saja

Bu guru, kenapa tugasmu sedemikian sulit adanya

Atau kau memang sengaja ingin membuat muridmu mati muda

Aku hanya menarik napas panjang saja

Lantas tidak terasa suara ayam mulai terdengar

Ah dan bunyi kumandang azan shubuh telah terdengar

Oh aku tertindur nyenyak rupanya, dan sekarang perutku terasa lapar

Tapi tapi dimana tugasku, apakah aku sudah menyelasaikannya dengan benar

Oh tidak, aku belum selesai, jadi semalam hanya mimpi ketika aku bisa menjawabnya kena sasar

Oh tidak, aku ingin tertidur lagi sekarang, apakah bisa?

**Puisi Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa**

Jasamu tak akan pernah tergantikan

Pagi siang malam kau curahkan segala upaya untuk mengajarkan

Bila memahami, bila belajar tak pernah sulit untuk dilakukan

Walau kau tahu, terkadang di kepalaku muncul banyak pertanyaan

Mengapa kau tetap bersabar dan masih ingin bertahan

Ketika suatu pagi aku pernah bilang kepadamu

“Bu guru, aku lelah belajar, aku bosan, ini menyusahkan”

Dengan senyum penuh ketulusan kau berkata demikian

“Tidak apa, istirahat saja, nanti juga bosannya hilang”

Waktu itu aku tidak peduli dengan apa yang kamu katakana

Aku menjadi amat sangat nakal dan menyebalkan

Setiap ilmu yang kau beri tak pernah sekalipun aku dengarkan

Rasanya seperti masuk telinga kiri lalu beberapa jam kemudian keluar telinga kanan

Tak ada yang benar-benar masuk ke otakku, bahkan semudah itu terlupakan

Tapi aku lihat engkau masih tersenyum dengan penuh ketulusan

Mengapa gerangan, bukankah engkau seharusnya ingin marah besar

Aku yang menjadi pemalas dan serba bosan dengan semua pelajaran yang kau berikan

Tapi bagaimana bisa engkau masih bertahan dengan itu senyuman

Guruku, tidakkah engkau lelah bertahan dalam kepura-puraan

Tidak papa, marahlah, aku sudah terlalu tidak sopan

Tapi suatu hari kamu bilang

Belajar bukan soal bagaimana engkau di kelas, belajar bisa dimana saja

Dari seorang pengamen di jalananpun, kau bisa banyak belajar tentang kehidupan

Jika yang kau pikirkan belajar adalah soal membaca buku besar

Tidak sesederhana itu sayang

Belajar adalah ketika kau butuh mengisi akalmu agar tidak terasa kering kerontang

Hari itu aku peluk erat pundakmu

Setulus ini kau mengajar, mengapa pekerjaanmu masih banyak diremehkan?

Puisi untuk Guru Tercinta dan Tersayang

Aku cinta guruku baru pacarku

Pacarku marah mendengar itu

Bagaimana bisa aku bukan yang nomor Satu

Katanya begitu, dengan mulut yang dilekuk seperti batu

Aku hanya tertawa dalam hatiku

Dan sepertinya pacarku itu tahu

Matanya lantas menatap tajam ke arahku

Aku tidak suka diduakan begitu

Bagaimana bisa gurumu lebih kau cintai daripada aku

Kali ini aku benar-benar tertawa di hadapan pacarku

Sayang, kataku waktu itu

Sebelum bertemu kamu

Ada seseorang yang dengan sabar mengajari aku

Menuntunku untuk menjauh dari kebodohan duniaku

Menggandeng tanganku menuju cahaya yang bernama ilmu

Aku pikir, mengapa dia tak kujadikan nomor Satu

Jasanya terlalu besar untuk hidupku

Jadi tidak salah bukan jika aku mencintainya, dan menjadikannya nomor Satu

Toh itu Cuma angka, kamu tetap punya aku di sampingmu juga di hatimu

Mengapa harus cemburu?

Tak usah lagi risau hatimu atu cemberut mukamu

Sudah kuceritakan betapa dia berharganya dia untukku kan

Aku tetap mencintaimu tidak peduli apapun itu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *