Ciri-Ciri Kleptomania

Kleptomania adalah suatu gangguan yang terjadi karena pelaku gagal mengendalikan diri untuk mencuri benda, padahal benda tersebut bukan sesuatu yang dia butuhkan ataupun mahal harganya. Ketika akan mencuri, ada perasaan tegang, namun ketika sudah mencuri, ada perasaan puas. Perilaku mencuri dilakukan bukan karena ingin melampiaskan rasa marah pada seseorang, bukan karena ingin melanggar hukum dan bukan karena pengaruh halusinasi atau delusi (DSMTM, 2013).

Biasanya kleptomania muncul pada usia remaja. Apa yang dilakukan oleh anak Ibu, kerap terjadi di antara anak usia TK dan SD awal. Anak tahu bahwa perbuatan mengambil barang milik teman secara diam-diam adalah salah, namun mereka ingin memilikinya karena tertarik pada benda tersebut. Ketika ditanya tentu saja anak tidak mau mengakui perbuatannya, sebab takut kena marah/dihukum; atau ada yang mengaku pemberian teman.

Mengapa anak tetap mengambil secara diam-diam? Karena sekalipun ia tahu perbuatannya salah, tapi karena keterbatasan perkembangan berpikirnya, anak belum mampu mengantisipasi apa konsekuensi dari perbuatannya, misalnya sanksi sosial yang dia terima dari temanteman, teman merasa sedih karena kehilangan benda yang disukai. Jadi, apa yang dilakukan anak Ibu, bukan termasuk kleptomania, sebab berkaitan dengan keterbatasan perkembangan berpikir, bukan karena merasa puas setelah berhasil mengambil benda milik orang lain.

Biasanya anak ingin memiliki benda tersebut karena dia merasa butuh atau belum punya; kadangkala dilakukan untuk mencari perhatian orangtua. Tindakan guru memberitahu Ibu dan mencari solusi memang sudah tepat. Mudah-mudahan guru tidak mempermalukan anak di depan temantemannya, sebab hal ini akan membuat anak semakin terpuruk dan benar-benar menganggap dirinya pencuri. Sayangnya Ibu belum menyampaikan apa solusi yang diambil untuk mengatasi perilaku anak.

Bagi para orangtua yang mempunyai masalah yang sama dengan Ibu Siti, sebaiknya tidak usah memojokkan anak sampai anak mau mengakui perbuatannya. Cukup dengan menyatakan bahwa orangtua tahu dia tertarik untuk memiliki benda seperti yang dipunyai teman, tapi tindakan mengambil secara diam-diam tidak dibenarkan, sebab teman akan merasa sedih; teman akan mengucilkan dia dari pergaulan. Hindari pernyataan bahwa perbuatan yang dilakukan anak merupakan dosa dan dia akan mendapat hukuman dari Allah, masuk ke dalam neraka dan merasakan bagaimana panasnya api neraka.

Pernyataan ini terlalu abstrak buat anak, dan akan membuat anak dihantui rasa cemas yang berlebihan, sebab anak tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ada surga atau neraka. Anak akan merasa bingung, kacau, dan menerima begitu saja penjelasan orangtua. Bagaimana solusi yang tepat?

Sebaiknya orangtua mencari tahu, apakah anak merasa terabaikan dari perhatian orangtua karena berbagai sebab, misalnya ada adik baru, perubahan situasi/pola hidup keluarga, orangtua terlalu sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan anak, atau orang tua terlalu pelit, terlampau sering melarang anak ketika dia membutuhkan alat tulis dan asesoris yang dia perlukan.

Saya berharap penjelasan ini akan membuat Ibu Siti dan para orangtua lainnya memahami mengapa anak suka ‘mencuri’ barang milik teman dan akan bertindak secara tepat untuk mengatasinya, jangan sampai mengganggu perkembangan sosial dan emosi/perilaku anak. Simak portal gaya hidup untuk hidup lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *